Minggu, 01 Januari 2012

Kantata Barock dan Celoteh Pemimpin Narsis dan Tamak


Kantata Barock dan Celoteh Pemimpin Narsis dan Tamak
M.Latief | Tri Wahono | Jumat, 30 Desember 2011 | 22:00 WIB

Personel kelompok musik Kantata Barock, Sawung Jabo saat gladi bersih jelang konser mereka, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (29/12/2011).

JAKARTA, KOMPAS.com - Benang merah yang paling mudah ditarik dari konser Kantata Barock, Jumat (30/12/2011) malam, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) adalah pesan moral untuk kehidupan yang lebih baik bagi rakyat Indonesia saat ini. Tak ada lagi sogok-sogokan dalam birokrasi pemerintahan. Jangan ada lagi suap-menyuap di kalangan elit politik dan pimpinan pemerintah. Sehingga rakyat sejahtera tanpa berbondong-bondong anak-anak muda putus sekolah kemudian jadi pengangguran.

Selain lewat lagu pembuka, "Nocturno", gambaran jelas tentang kondisi Indonesia yang penuh tipu-tipu, maraknya korupsi dan pengangguran itu juga dihadirkan Kantata Barock lewat lagu "Balada Pengangguran". Wajah seorang Gayus pun kemudian muncul sebagai latar panggung dalam selembar uang seribu rupiah dan berjubah astronot.

Di lagu "Megalomania" misalnya, Kantata Barock melukiskan tokoh-tokoh yang mampu berbuat apa saja pada dunia. Tak cuma pemimpin "narsis" yang doyan tampil dan perintah sana-sini, tetapi juga rakus berada di kursi pemimpin. Tak heran, latar pun berubah dengan tampilnya wajah pemimpin dari era perang dunia kedua seperti pemimpin Nazi, Adolf Hitler, dan pemimpin Italia, Benito Musolini, hingga yang terkini, Barack Obama.

Selepas itu, masih dengan konteks pemimpin "narsis", Sawung Jabo maju ke muka melantunkan "Badut" dari album Swami. Penonton sontak bernyanyi membentuk koor yang bergemuruh di seisi stadion.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar